Wanita yang Buta, Tuli, dan Bisu

1 Comment

Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imraan 7)

Sahabatku menceritakan:
Ini cerita tentang adikku Nur Annisa , gadis yang baru beranjak dewasa namun rada Bengal dan tomboy. Pada saat umur adikku menginjak 17 tahun, perkembangan dari tingkah lakunya rada mengkhawatirkan ibuku, banyak teman cowoknya yang datang kerumah dan itu tidak mengenakkan ibuku sebagai seorang guru ngaji.

Untuk mengantisipasi hal itu ibuku menyuruh adikku memakai jilbab, namun selalu ditolaknya hingga timbul pertengkaran pertengkaran kecil diantara mereka. Pernah satu kali adikku berkata dengan suara yang rada keras: “Mama coba lihat deh, tetangga sebelah anaknya pakai jilbab namun kelakuannya ngga beda beda ama kita kita, malah teman teman Ani yang disekolah pake jilbab dibawa om om, sering jalan jalan, masih mending Ani, walaupun begini-gini ani nggak pernah ma kaya gituan”, bila sudah seperti itu ibuku hanya mengelus dada, kadangkala di akhir malam kulihat ibuku menangis , lirih terdengar doanya: “Ya Allah, kenalkan Ani dengan hukum Engkau ya Allah “.

Pada satu hari didekat rumahku, ada tetangga baru yang baru pindah. Satu keluarga dimana mempunyai enam anak yang masih kecil kecil. Suaminya bernama Abu Khoiri, (bukan Effendy Khoiri lhoo) (entah nama aslinya siapa) aku kenal dengannya waktu di masjid.

Setelah beberapa lama mereka pindah timbul desas desus mengenai istri dari Abu Khoiri yang tidak pernah keluar rumah, hingga dijuluki si buta, bisu dan tuli. Hal ini terdengar pula oleh Adikku, dan dia bertanya sama aku: “Kak, memang yang baru pindah itu istrinya buta, bisu dan tuli ? “..hus aku jawab sambil lalu” kalau kamu mau tau datangin aja langsung kerumahnya”.

Eehhh tuuh, anak benar benar datang kerumah tetangga baru. Sekembalinya dari rumah tetanggaku , kulihat perubahan yang drastis pada wajahnya, wajahnya yang biasa cerah nggak pernah muram atau lesu mejadi pucat pasi….entah apa yang terjadi.? More

Bersabar dalam Bergaul

Leave a comment

Dalam pergaulan dengan manusia tidak akan lepas dari 2 kemungkinan, apakah mewarnai atau diwarnai. Mewarnai maksudnya memberikan pengaruh, sedangkan diwarnai maksudnya terpengaruh. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memberikan perumpamaan yang sangat baik, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang pergaulan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Demikian juga beliau shallallahu’alaihi wasallam mengisyaratkan bahwa keadaan agama seseorang itu dapat dilihat dari keadaan agama teman dekatnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Demikian itu menunjukkan betapa pentingnya dalam memilih teman bergaul.

Setelah memahami rambu-rambu dalam pergaulan dan segala kemungkinan yang akan terjadi, akankah kita tetap bergaul dengan manusia atau lebih baik hidup menyendiri jauh dari manusia yang kebanyakan melakukan perbuatan yang melampaui batas? Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas perangai buruk mereka lebih besar pahalanya daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dengan perangai buruk mereka.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Albani). More

Jangan Lemah!

Leave a comment

Sunnatullah telah menetapkan, orang-orang yang gemar bermaksiat lebih banyak jumlahnya dibandingkan yang menaati Ar-Rahman. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya

“Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik” (Al-Maidah: 49).

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (Al-An’am: 116).

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih” (Saba’: 12)

Apabila anda telah mengetahui bahwa para pelaku kemaksiatan jumlahnya banyak dan mendominasi, janganlah hal itu sampai menghalangi anda berpegang teguh terhadap din Islam. Lihatlah kebenaran dan jangan melihat jumlah individunya. Sebab Allah Ta’ala telah menyifati Ibrahim ‘alaihissalam, bahwa ia adalah seorang umat meskiput sendirian. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat (imam) yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah)” (An-Nahl: 120)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Engkau adalah sebuah umat, meskipun sendirianMore

Ridho Siapa yang Dicari?

Leave a comment

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menuliskan surat kepada Mu’awiyah. Isinya sebagai berikut:

“Salam untukmu. Amma Ba’du. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Barang siapa mencari ridho Allah dengan membuat manusia murka, maka Allah akan bereskan urusannya dengan sesama manusia. Tetapi barang siapa mencari ridho manusia dengan membuat Allah murka maka Allah akan serahkan orang tersebut kepada manusia’ Wassalamu ‘alaika.” (HR. Tirmidzi. Dalam As Silsilah Ash Shohihah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Al Qoulul Mufid mengatakan, “Apabila seseorang mencari ridho Rabbnya dengan niat yang tulus, maka Allah akan ridho kepadanya karena dialah yang paling mulia dari hamba-Nya… karena hati seseorang di antara dua jari dari jari-jemari Allah ta’ala. Allah-lah yang membolak-balikkan hati siapa saja yang dikehendaki-Nya [HR. Muslim, no. 2654]…Dan barang siapa yang mencari ridha manusia namun membuat Allah murka, maka hasilnya adalah dia akan mendapatkan lawan dari maksudnya tersebut.”

Hadits ini bisa menjadi yang sangat penting bagi para da’i dan selainnya, baik da’i itu seorang ustadz maupun bukan. Karena tidak setiap da’i itu harus seorang ustadz, sedangkan menjadi da’i adalah kewajiban setiap muslim sebagaimana diperintahkan Allah ta’ala “Wahai orang-orang yang beriman selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” [At Tahrim 6].

Bagaimana hubungannya?

Yang namanya da’i (orang yang menyeru/berdakwah), tentu proses dakwah hanya bisa berjalan jika ada mad’u (orang yang diseru/didakwahi). Tanpa mad’u, sang da’i tidak bisa “beraksi”. Dan keluarga sang da’i itu sendiri adalah ma’du-nya yang pertama.

Kadangkala, sang da’i ingin mengambil hati mad’u nya, baik dengan niat menyampaikan dengan hikmah atau niat-niat lainnya seperti berharap mendapat pengikut yang banyak, menjadi populer, mengharapkan imbalan, karena hutang budi, dan berbagai motif lainnya. Niat untuk menyampaikan dengan hikmah tentu sebuah niat yang benar dan memang harus diusahakan, sedangkan niat lain yang disebutkan selainnya bukanlah niat-niat yang benar. Dan hal ini amat sangat disayangkan jika dimiliki seorang da’i. Maka menjadi kewajiban setiap da’i untuk selalu mengikhlaskan niatnya, menetapkan tujuannya semata-mata untuk mencari ridho Allah Ta’ala, tidak menyembunyikan kebenaran demi popularitas sesaat dan tujuan-tujuan yang rendah lainnya, serta bersabar terhadap reaksi objek dakwahnya, yang bisa berupa penerimaan, penolakan, atau bahkan perlawanan.

Cukuplah kisah para Nabi dan Rasul yang mulia menjadi cerminan betapa tidak ada dakwah yang sepi dari gangguan dan penolakan. Kemurkaan manusia bisa berubah menjadi keridhaan jika kebenaran telah ditampakkan padanya. Dan itu mudah bagi Allah. Sebaliknya keridhaan manusia pun bisa berubah menjadi kemurkaan jika dia menyadari telah dijauhkan dari kebenaran yang diinginkannya. Semua itu sangat mudah bagi Ar Rahman. Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehandakiNya dan menyesatkan siapa saja yang dikehendakiNya.

——————————————————————————-

Sebuah catatan untuk menghibur dan mengingatkan diri sendiri.

%d bloggers like this: