Menempuh Sebab-sebab Kebahagiaan

Leave a comment

Allah Ta’ala telah menjelaskan kebahagiaan dan sebab-sebab kebahagiaan di dalam agama yang diridhoi-Nya. Allah memerintahkan hamba-Nya bertakwa dan Dia pun menjelaskan sebab-sebab meraih ketakwaan di dalam agama yang diturunkan-Nya. Dia yang telah Menciptakan manusia maka tentu Dia Maha Mengetahui kebutuhan mereka. Maka benarlah Rasulullah صلى الله عليه و السلام ketika mengucapkan من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريق إلى الجنة  “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu (agama), maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga” [diriwayatkan Muslim, shahih].

Koleksi Faedah Pustaka Al-Atsar

Brunei Daarussalaam, 18 Jumadi Tsani 1435 AH

Mendidik Anak Perlu Ilmu

Leave a comment

Ilmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.

Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.
More

Fenomena Mengikuti Suatu Kaum

3 Comments

Fenomena perilaku mengekor musuh-musuh Allah –yaitu golongan kafir dan musyrik– telah menjalar di tubuh umat Islam dan hampir di segala segi dan tata kehidupan, seperti cara berpakaian, gaya bicara dan penampilan, sampai kepada hal yang lebih besar, yaitu soal-soal ibadah. Padahal

Allah telah mengingatkan kita pada banyak ayat-Nya untuk tidak mengikuti jalan-jalan mereka. Diantara peringatan Allah Ta’ala itu adalah

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan sungguh sekiranya engkau (Muhammad) mengikuti hawa nafsu mereka setelah datangnya kebenaran ini kepadamu, niscaya engkau akan masuk golongan orang-orang zalim.” [Al Baqarah 145]
More

Sajadah Kadang Jadi Masalah

6 Comments

Shalat dengan beralaskan Sajadah adalah hal yang lumrah dilakukan oleh kaum muslimin hari ini. Berbagai bentuk, ukuran, dan corak Sajadah pun berkembang dari waktu ke waktu, bahkan sekarang sudah menjadi pemandangan biasa jika karpet masjid bercorak Sajadah dengan ukuran yang beragam pula. Entahlah…apakah ini merupakan bukti kreativitas manusia atau kelihaian tipu daya syaitan untuk menggoda anak Adam. Lho! Apa hubungannya Sajadah dengan syaitan la’natullah?

Mendirikan Shalat berjamaah adalah disyariatkan bagi muslim laki-laki. Sekian banyak dalil dari Al-Qur’an maupun Sunnah yang shahih mengarah kepada hukum wajibnya shalat berjamaah. Meskipun ada pendapat lain yang menyimpulkan hukum yang berbeda, namun tidak akan dibahas pada tulisan ini.

Diantara kesempurnaan dalam shalat berjamaah adalah meluruskan dan merapatkan shaff (barisan shalat), sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengingatkan kepada para sahabatnya sebelum memulai takbir:

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat”. [Shahih Muslim 433]

Makna dari “luruskan shaf-shaf kalian” yakni, lurus dan seimbanglah dalam bershaf sehingga kalian seakan-akan merupakan garis yang lurus, jangan salah seorang di antara kalian agak ke depan atau agak ke belakang dari yang lainnya, serta merapat dan tutuplah celah-celah kosong yang berada di tengah shaf. Dan dikatakan bahwa meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalatyakni penyempurna sholat. Sesuatu dikatakan sempurna jika telah sempurna seluruh bagian-bagiannya, sehingga satu bulan dikatakan sempurna jika harinya sudah genap 30.

Selain memerintahkan untuk meluruskan shaf, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga memerintahkan untuk menyambung atau merapatkan shaf, sebagaimanan diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiallahu Ta’ala ‘anhuma- beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

أَقِيْمُوُا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلاَئِكَةِ, وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسَدُّوْا الْخَلَلَ وَلِيْنُوْا بِأَيْدِيْ إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ. وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya  (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”. [HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah 743]

Lalu, apa yang terjadi jika setiap anggota jamaah membentangkan sajadahnya masing-masing dan tiap-tiap orang berdiri di tengah-tengah sajadahnya? Atau pada masjid-masjid yang sudah dipasang karpet bermotif Sajadah, lalu setiap jamaah menganggap bahwa setiap kotak adalah “jatahnya” sehingga masing-masing pun berdiri di tengah-tengah tiap kotak sajadah. Akhirnya, yang terlihat adalah kerenggangan shaf dengan jarang kerenggangan yang berbeda-beda tergantung dari lebar masing-masing sajadah. Menyedihkan! Itulah yang banyak dijumpai di masjid-masjid kaum muslimin di negeri kita. Tidak semuanya, tapi pemandangan seperti itu paling banyak dijumpai. Ditambah lagi, kebanyakan Imam langsung “tancap gas” (bertakbir begitu iqomat selesai) tanpa melihat jamaah dan mengatur shaf. Padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam selalu mengatur barisan sebelum takbiratul ihram seperti beliau mengatur barisan pasukan perang.

Entah apa yang menjadi latar belakangnya. Apakah sikap meremehkan dengan dalih “ah…yang penting kan shalat berjamaah”, atau karena kebodohan kaum muslimin yang sudah sedemikian parah sehingga untuk urusan shaf saja tidak tahu. Laa haula walaa quwwata illa billah. Padahal telah shahih contoh dari suri tauladan yang paling baik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diiringi pula dengan perintah beserta motivasi dan ancaman.

Padahal, jika keutamaan meluruskan dan merapatkan shaf ini diketahui, tentu setiap muslim akan bersemangat untuk mengamalkannya disaat banyak orang melalaikannya. Janji yang begitu besar disampaikan dari ‘A`isyah -radhiallahu Ta’ala ‘anha- berkata, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karenanya dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga” [HR.Ibnu Majah Al-Qozwini dalam Sunan-nya (1004). Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashir Al-Albany -rahimahullah- dalam Shohih Sunan Ibnu Majah (1004) dan At-Ta’liq Ar-Roghib (1/335) cet. Maktabah Al-Ma’arif , tahun 1421 H]

Dan jika setiap muslim telah mengetahui adanya ancaman yang serius bagi siapa yang tidak meluruskan dan merapatkan shaf, tentu seorang muslim tidak akan pernah melanggarnya. Pada hadits sebelumnya telah dikabarkan bahwa ketidakrapatan shaf memberi celah kepada syaitan, sedangkan ketidaklurusan shaf bisa menyebabkan kaum muslimin berselisih, sebagaimana hadits berikut ini:

لَتَسُوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ

“Kalian akan benar-benar meluruskan shaf, atau Allah benar-benar akan membuat hati-hati kalian berselisih”. [HR. Al-Imam Al-Bukhory dalam Shohih-nya (717), dan Muslim dalam Shohih-nya(436)]

Adanya Sajadah tidaklah menjadi masalah, selama tidak ada gambar makhluk hidup atau motif-motif lain yang bisa mengganggu kekhusyu’an dalam shalat. Namun terkadang adanya Sajadah menjadi masalah, tatkala yang punya Sajadah tidak mengetahui ilmu tentang mengatur barisan shalat. Betapa indahnya, jika setiap muslim memahami dan mengamalkan perintah meluruskan dan merapatkan shaf ini, sehingga sesama jamaah bisa saling berbagi Sajadah, bahu dan kaki saling menempel sehingga ukhuwah pun semakin kuat.

Kapan ya? Yuk, kita mulai dari diri sendiri 🙂 Insya Allah bersambung dengan Tata Cara Meluruskan dan Merapatkan Shaf, dengan memohon Taufik dari Allah Ta’ala.

———————————————————————————————————

Judul tulisan dibuat di kampung halaman,  isi diselesaikan di kampung halaman Istri ketika melihat fenomena yang sama. Semoga kaum muslimin menyadari dan berkeinginan untuk mengangkat kejahilan dari diri-diri mereka. Allahul musta’an.

12 Kiat Membuat Membaca Jadi Bermanfaat

Leave a comment

Di antara yang bisa membantu seseorang dalam memanfaatkan waktunya adalah dengan membaca, dan ini adalah salah satu wasilah (sarana) untuk mendapatkan ilmu. Tapi sering kita saksikan bahwa seseorang menjadikan kegiatan membaca, sesuatu yang berat dan sulit diwujudkan. Dengan izin Allah apabila seseorang memperhatikan kiat-kiat di bawah ini Insya Allah dia tidak akan berat untuk membaca, bahkan dia akan rindu untuk membaca.

1. Berniat

Suatu perbuatan apabila diawali dengan niat yang benar, maka pekerjaan itu akan diberkahi oleh Allah. sebaliknya apabila niatnya salah, maka amalan-amalan yang ia lakukan akan menjadi sia-sia. Dengan niat yang ikhlas maka pekerjaan berat akan teras ringan. Ibnu Mubarak rahimahullah berkata “Pertama yang harus dihadirkan untuk mendapatkan ilmu adalah niat yang benar, kemudian mendengar, lalu memahami, kemudian menghafal, lalu mengamalkan, serta kemudian menyebarkan (berdakwah)” [Jami’ Bayanil ilmi wa Fadhlihi 1/476 no: 759]

Malik bin Dinar berkata “Barangsiapa yang mencari ilmu untuk diamalkan maka Allah memberinya taufik kepadanya, dan barangsiapa yang mencari ilmu tidak untuk diamalkan, tidaklah akan bertambah dengan ilmu tersebut kecuali kesombongan”

Malik bin Dinar juga berkata “Barangsiapa yang mencari ilmu untuk dirinya sendiri maka ilmu yang sedikit baginya sudah cukup, dan barangsiapa mencari ilmu untuk manusia, maka kebutuhan manusia sangatlah banyak” [Kitab Jami’ Bayanil ilmi wa Fadhlihi]

Catatan: Niat yang benar meliputi: Ikhlas karena Allah, untuk menghilangkan kebodohan sendiri dan manusia lainnya, untuk diamalkan

2. Bersabar

Seseorang yang sedang membaca sangatlah membutuhkan kesabaran, apabila tidak sabar maka dia akan meninggalkan aktifitas ini. Kesabaran dibutuhkan ketika harus memandangi buku berjam-jam, ketika mengalami kesulitan-kesulitan dalam bahasa, harus membuka kamus, menghabiskan waktu yang lama, ketika tak kunjung paham, atau saat rasa kantuk menyerang. Lawan dari sabar adalah putus asa. Dan sifat ini harus dibuang jauh-jauh karena sifat ini tercela dan sangat merugikan.

Dikisahkan, seorang ‘alim bernama Kisai berkali-kali belajar ilmu nahwu namun tidak kunjung paham. Suatu ketika beliau mengamati semut yang membawa makanan dan berusaha melewati dinding akan tetapi berkali-kali jatuh, namun semut ini tidak pernah putus asa, selalu mengulanginya lagi hingga akhirnya semut itu berhasil melewati dinding. Akhirnya, beliau berusaha terus hingga paham dan menjadi Imamnya ilmu Nahwu di Kufah.

3. Istiqamah

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dikerjakan terus menerus (istiqamah) meskipun sedikit” [Muttafaq ‘alaihi]

Oleh karena itu, lebih baik baca sedikit setiap hari dan menjaganya, daripada membaca banyak kemudian ditinggalkan.

4. Memikirkan Umat dan Memenuhi Kebutuhan-kebutuhan Mereka, Terutama Masalah Ilmu

Di zaman ini, manusia sangat butuh akan ilmu dibandingkan kebutuhan manusia pada makanan, minuman, dan kebutuhan yang lainnya. Apabila seseorang memikirkan akan kebutuhan umat dan inginmembantu untuk memberikan ilmu pada mereka, maka hendaklah dia belajar dengan sungguh-sungguh dan banyak meluangkan waktunya untuk mencari ilmu, salah satunya dengan membaca. Dengan membaca, seseorang akan banyak mendapatkan ilmu yang belum dia ketahui. Dengan memikirkan kebutuhan umat serta ingin memenuhi kebutuhan mereka maka dia akan semangat dan terus semangat dalam membaca dan tidak bermalas-malasan karena umat sedang menunggu.

Catatan: Jika kita memikirkan kebutuhan umat yang sangat beragam, maka kita pun akan berusaha mempelajari ilmu yang beragam untuk membantu masalah-masalah yang sering dihadapi atau kemungkinan besar akan dihadapi umat. Namun jika kita hanya memikirkan diri kita sendiri, maka kita akan merasa cukup untuk mempelajari ilmu sekedar untuk masalah kita sendiri.

5. Menyendiri

Ketika membaca, hendaklah berusaha mencari waktu dan tempat yang nyaman, tenang tanpa ada gangguan, karena dengan ini akan lebih konsentrasi dan semangat ketika membaca. Oleh karena itu pilihlah waktu yang tepat, misalnya pada malam hari ketika manusia tertidur lelap, maka bagilah waktu untuk shalat malam (tahajud), berdo’a, dan membaca.

6. Memberikan Manfaat kepada Orang Lain

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling bermanfaat, dan amalan-amalan yang dicintai oleh Allah adalah memberikan rasa gembira kepada seorang muslim, membantu melepaskan kesusahannya, atau membantu melunasi hutangnya” [Riwayat Ibnu Abi Dunya dan Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam kitab Silsilah Hadits Shahih no. 906]

Apabila seseorang ingin memberikan manfaat kepada orang lain, terutama dalam masalah ilmu syar’i, hendaknya dia belajar dengan sungguh-sungguh dan menumbuhkan rasa ingin memberikan manfaat yang banyak kepada manusia. Dengan ini, insya Allah dia akan lebih bersemangat untuk membaca.

7. Menjauhi kemaksiatan dan Selalu Menjaga Ketaatan

Imam Syafi’i berkata “Saya mengadu kepada guruku Waki’ tentang jeleknya hafalanku, maka beliau menyarankan kepadaku supaya meninggalkan maksiat dan beliau mengabarkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat”

Apabila hati sudah bernoda, maka dia akan malas menjalankan ketaatan kepada Allah dan tidak akan bisa menikmati manisnya ibadah kepada Allah. Sebaliknya jika seseorang menjaga ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan, maka hatinya akan bersinar, tenang, dan mudah mendapatkan ilmu, serta rindu dengan membaca.

8. Mencatat Hal-hal Penting

Tabiat manusia adalah sering lupa, maka alangkah baiknya ketika seseorang membaca maka menulis poin-poin yang penting, jangan sampai pembaca tidak menangkap buruannya. Ibnu Katsir rahimahullah berkata “Ikatlah ilmu dengan tulisan”. Kita akan semakin bersemangat jika bisa mencatat manfaat yang bisa diambil dari kegiatan membaca.

Catatan penting bisa diberikan pada pinggir buku yang dibaca, atau pada buku tulis tersendiri dengan selalu mencantumkan nama kitab, pengarangnya, penerbit, cetakan, halaman, dan informasi lainnya yang dianggap penting. Jangan merasa sayang jika harus memberikan corat-coret pada buku yang baru dibeli.

9. Merujuk Kitab-kitab Besar dan Memperluas Pembahasan Suatu Masalah

Ketika sedang membaca dan menemukan hadits tanpa penjelasan ulama, maka seseorang hendaknya memperluas bacaannya dengan melihat kitab-kitab yang ada penjelasannya dari para ulama untuk menambah wawasan, tanpa fanatik terhadap madzhab tertentu, akan tetapi mengembalikan semua perkara pada Al-Qur’an dan Sunnah. Begitu juga ketika menjumpai ayat yang dikutip, maka seorang pembaca bisa memperluas dengan melihat tafsir ayat tersebut dari kitab-kitab tafsir yang muktabar.

10. Konsentrasi

Ketika seseorang sedang membaca, tentunya dia harus memperhatikan apa yang sedang dibacanya, manfaat apa yang  ingin didapat dari bacaannya itu. Beberapa hal yang bisa membantu konsentrasi diantaranya:

Pertama, Memilih tempat yang tenang dan nyaman, jauh dari gangguan kebisingan dan yang lainnya.

Kedua, Tidak menghiraukan bisikan syaitan jika mengajak berpaling dari yang sedang dibacanya.

Ketiga, Mematikan ponsel atau menjauhkan untuk sementara. Hal ini tidaklah mutlak, melainkan sesuai dengan keinginan. Jika sedang tidak ingin diputus kenikmatan membaca dengan telepon atau SMS, maka hendaknya menjauhkan dari ponsel.

Keempat, Lampu yang terang, karena lampu yang terang akan lebih membantu konsentrasi dalam membaca.

Kelima, Menguasai bahasa dari buku yang sedang dibacanya. Semakin mengerti bahasa dari materi yang dibaca, akan semakin terasa nikmat membaca sehingga semakin membantu konsentrasi.

11. Memperhatikan Poin-poin yang Penting Ketika Membaca

Diantara poin-poin yang penting untuk diperhatikan adalah:

Pertama, Ta’rif, yaitu pengertian suatu masalah

Kedua, Contoh-contohnya

Ketiga, Pembagian-pembagiannya

Keempat, Hukum-hukumnya

Kelima, Memahami ikhtilaf (perbedaan-perbedaan pendapat) ulama (dalam masalah fikih) dan mengambil pendapat yang rajih (paling kuat).

Keenam, Mengetahui aqidah yang haq (benar) dan yang batil (menyimpang) untuk menjauhi dan membantah syubhat-syubhat dari aqidah yang batil.

12. Berdo’a

Do’a adalah senjatanya orang mukmin. Tidaklah cukup seseorang itu hanya mengambil sebab dan meninggalkan do’a. Oleh karena itu, tawakal yang hakiki adalah dia mencari sebab dan juga tidak meninggalkan do’a, kemudian menyerahkan segala urusannya kepada Allah Ta’ala.

Ketika seseorang merasa malas untuk membaca, maka carilah penyebabnya. Setelah mengetahui penyebabnya, kemudian berusahalah memperbaikinya, serta bersungguh-sungguh berdo’a kepada Allah agar diberi kemudahan dan kenikmatan ketika membaca.

Catatan: Tentunya, syarat-syarat dikabulkannya do’a harus diusahakan untuk dipenuhi, serta penghalang-penghalang dari tidak dikabulkannya do’a juga diusahakan untuk dihilangkan.

***************************

Diselesaikan di kampung halaman, diringkas dari majalah NIKAH sakinah, Volume 10, no. 3 2011, artikel berjudul “Kiat-kiat Meraih Manfaat Membaca” tulisan Budi Suryanto Abu Muhammad, dengan beberapa perubahan redaksi dan tambahan catatan.

Jangan Enggan untuk Masuk Surga

Leave a comment

Sungguh sebuah kabar gembira bagi kaum muslimin, umat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam, ketika beliau bersabda:

كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَـى، فَقِيْلَ: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى

“Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Lalu) dikatakan kepada beliau: ‘Siapa yang enggan itu wahai Rasulullah?’ Maka beliau menjawab: ‘Barangsiapa mentaati aku ia pasti masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka berarti ia enggan (masuk surga).” [Shahih Bukhari: 7280]

Subhanallah! Sungguh suatu kebahagiaan menjadi umat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam, dimana telah dikabarkan oleh beliau bahwa pada dasarnya umat Islam itu masuk surga, kecuali yang enggan saja. Masya Allah! Adakah yang enggan masuk surga? Adakah yang enggan dengan kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, yang belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah terpikirkan oleh hati sekalipun? Adakah yang enggan berada di surga ditemani bidadari-bidadari yang disucikan?

Tentu tidak ada yang enggan masuk surga. Tentu semua ingin berada di surga dan dapat memandang Wajah Allah yang Mulia, kekal di dalamnya selama-lamanya. Namun demikian, keinginan saja tidak cukup. Keinginan tanpa pengetahuan tidak akan melahirkan tindakan atau usaha yang nyata untuk mewujudkan keingingan itu. Maka dari itu kita perlu mengetahui apa dan bagaimana sifat surga serta apa dan bagaimana sifat neraka. Karena siapa yang tidak masuk surga, pintu yang lain adalah neraka, dan tidak ada ada tempat di antara keduanya.

Ketika Allah menciptakan surga dan neraka beserta amalan-amalan menuju keduanya, terjadilah dialog antara Allah SWT dengan Jibril as. Dialog ini diriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata: Rasulullah bersabda: ”Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, diutuslah Jibril kepada surga. Allah berfirman: `Pergilah! lihatlah surga itu dan lihatlah kepada apa yang telah aku sediakan untuk mereka yang ingin menuju surga itu.’ Maka Jibril pun pergi dan melihat surga itu dan kepada apa yang telah Allah sediakan bagi calon penghuninya. Maka Jibril pun kembali dan berkata: `Demi kemuliaanmu ya Allah tidak akan ada seorangpun yang mendengar tentang surga itu, kecuali pasti akan memasukinya.’ Maka Allah memerintahkan surga dan memenuhi jalan-jalan menuju surga itu dengan Al Makarih (berbagai ketidaksenangan). Maka Allah memerintahkan Jibril: `kembalilah, dan lihatlah surga itu dan kepada apa yang telah aku sediakan untuk calon penghuninya!” maka Jibril pun melihat kembali surga itu, kemudian kembali, seraya berkata `demi kemuliaanmu ya Allah, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan ada seorangpun yang bisa memasuki surga.’ Kemudian diutuslah jibril ke neraka, Allah berfirman: `pergilah, lihatlah neraka itu dan kepada apa yang telah aku persiapkan bagi calon penghuninya.’ Maka Jibril pun melihat neraka itu, maka tiba-tiba ia melihat api neraka itu saling bertumpuk-tumpuk, kemudian ia kembali dan berkata: `demi kemuliaanmu ya Allah, tidak akan ada seorangpun yang akan masuk neraka kalau dia mendengar tentang siksa neraka’, lalu Allah memerintahkan neraka, lalu dipenuhilah jalan menuju neraka itu dengan asy Syahawaat, lalu allah berfirman: `pergilah dan lihatlah neraka itu’, maka jibril pun pergi melihat kemudian kembali dan berkata: `demi kemuliaanmu ya Allah aku kawatir tidak ada seorangpun yang selamat dari neraka kecuali pasti akan memasukinya’.” [H.R. Muslim].

Subhanallah! Ternyata surga yang di dalamnya adalah negeri kenikmatan abadi itu tertutupi oleh tirai-tirai berbagai macam ketidaksenangan, berbagai macam kesulitan, kepayahan, yang mana hanya orang yang yakin saja yang akan sanggup membuka dan menembus tirai-tirai itu hingga akhirnya akan memasukinya. Maka seorang mukmin yang yakin akan perjumpaan dengan Rabb-nya, dan yakin akan kebenaran surga dan neraka akan capek dalam hidupnya karena usahanya yang tiada henti untuk membuka tirai-tirai penutup surga.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. [Al Baqarah 214]

Sebaliknya, tabir penutup neraka ternyata adalah berbagai macam kenikmatan yang sulit bagi manusia untuk menolaknya, karena memang manusia diciptakan mempunyai syahwat/keinginan terhadap wanita, anak-anak, harta yang banyak, serta berbagai kenikmatan lainnya yang bisa dirasakan oleh panca inderanya. Terkadang,  usaha besar harus dilakukan, harta harus dikeluarkan, waktu harus dikorbankan, demi mendapatkan semua kesenangan itu, yang sebenarnya kesengsaraan abadi menanti di balik tirai-tirai itu.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali Imraan 14]

Setelah mengetahui rahasia tabir surga dan neraka, kita mempunyai pilihan, apakah ingin membuka tabir-tabir surga dengan bersabar terhadap segala kesulitan yang akan dijumpai, atau membuka tabir-tabir neraka yang akan menjumpai berbagai kenikmatan semu.

Bagaimana Membuka Tabir?

Imam Nawawi berkata “Barang siapa dapat membuka tabir, maka ia sampai pada sesuatu yang di tutupi. Membuka tabir surga adalah dengan melakukan hal-hal yang di benci, sedangkan membuka tabir neraka adalah dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan (menuruti hawa nafsu).

Membuka tabir surga dapat dilakukan dengan kesungguhan beribadah, istiqamah, sabar dalam kesulitan Ibadah, menahan marah, bershadaqah, berbuat baik pada manusia, sabar di hadapan syahwat, dan berbagai amal shaleh lainnya.
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya” (Al Baqarah 25)
Demikian juga, hendaknya kita tidak membuka tabir neraka, yaitu dengan meninggalkan segala larangan Allah seperti berbuat Syirik, Bid’ah, malas dan meremehkan ibadah, berbuat Maksiat, dan berbagai macam kemaksiatan lainnya.
“(Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (Al Baqarah 81)
Adakah Solusi yang Menggabungkan Penyelesaian Masalah?
Jawabannya: ADA! Justru Sunnah telah memberikan solusi yang dapat menyelesaikan masalah tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalannya ke SURGA” (HR Muslim)
Kenapa Ilmu? Karena dengan ilmu kita menjadi tahu TABIR-TABIR SURGA sehingga dapat mempersiapkan bekal untuk menembusnya. Dengan ilmu juga kita menjadi tahu TABIR-TABIR NERAKA sehingga berupaya menjauhinya.
Dan do’a harus terus disampaikan kepada Allah Ta’ala karena Allah akan mengabulkan semua do’a selama tidak meminta dalam kemaksiatan.
“Ya Allah, aku mohon kepadamu Surga dan apa-apa yang bisa mendekatkan diri kepadanya, baik berupa ucapan maupun perbuatan”
“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari Neraka dan dari apa-apa yang bisa mendekatkan diri kepadanya, baik berupa ucapan maupun perbuatan”

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarganya, para Sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

—————————————–

Khutbah Jum’at Masjid Adi Oman, Juni 2010…ditulis ulang dan diselesaikan waktu liburan di KL, 18 Juni 2011.

Resep Soto di Al-Qur’an?

Leave a comment

Pada sebuah warung Soto, dua orang sedang bercakap-cakap. Salah seorang diantara keduanya adalah seorang muslim, sedangkan yang lainnya non muslim. Si non muslim mengajukan pertanyaan kepada temannya yang muslim, entah bermaksud menguji, atau mengejek.

“Eh, katanya di kitabmu itu (Al Qur’an) menjelaskan segala sesuatu?” katanya membuka percakapan, “coba ada nggak di kitabmu itu resep membuat Soto Ayam?”

Mungkin yang dimaksud adalah penggalan surat An Nahl ayat 89, yang artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.

atau bisa juga yang ada di surat Yusuf ayat 111, yang artinya “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. 

Saudara muslim ini pun tak kalah cerdas,  “Tentu saja ada! Jangankan Soto Ayam…Gulai Ayam, Sate Kambing, Sop Buntut, Nasi Kebuli, apa saja deh yang kamu mau, semua ada”

Tambah heranlah temannya yang non muslim itu, namun belum terima begitu saja “Coba, tunjukkan di surat mana!”

“Sabar dulu”, kata si Muslim, kemudian dia memanggil tukang masak warung itu “Mas, tolong tunjukkan pada saya bagaimana cara membuat Soto Ayam seperti di warung ini”

Kemudian si tukang masak pun menjelaskan dengan rinci, mulai dari bahan-bahan yang dibutuhkan, cara memasak, hingga cara menyajikan.

“Nah, di Al-Qur’an itu menjelaskan yang seperti itu”, kata si Muslim kepada temannya yang non muslim.

“Ah masa? Coba tunjukkan di surat mana?”, kata si non muslim yang sekarang giliran merasa diledekin temannya itu.

“Tentu saja ada”, lalu si muslim membacakan surat An Nahl ayat 43 “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”

“tuh kan, ada…Al-Qur’an itu menyuruh kita bertanya kepada ahlinya kalau kita memang tidak tahu. Jadi, bukannya menjadi sok tahu lalu urusan jadi berantakan” kata si Muslim. [*]

Hikmah dan Faedah:

  1. Al-Qur’an memuat kaidah-kaidah (rumus) umum, sedangkan rinciannya bisa ditemukan lagi di kitab-kitab Hadits, atau dari ijtihad ulama berdasarkan kaidah umum yang ada. Itulah mengapa Al-Qur’an itu akan cocok sepanjang masa. Jika Al-Qur’an merinci seluruh permasalahan, akan menjadi kitab yang sangat tebal.
  2. Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak berilmu, maka diperintahkan untuk mencari ilmu, baik dengan membaca maupun bertanya. Dalam bertanya pun diperintahkan untuk bertanya kepada yang mempunyai pengetahuan tentang yang ditanyakan, bukan bertanya kepada sembarang orang.
  3. Menunjukkan tingginya kedudukan orang yang mempunyai ilmu pengetahuan, hingga orang-orang pun diperintahkan untuk bertanya kepada mereka.
  4. Ilmu yang dimaksud adalah apa yang ada di dalam Al-Qur’an, lalu Hadits Nabi Shallallahu’alaihi wasalam, kemudian perkataan para Sahabat, dan ulama-ulama yang mengikuti mereka dengan baik.
  5. Merupakan anjuran untuk bertanya kepada Ahlinya, termasuk dalam urusan/ilmu dunia sehingga urusan menjadi benar. Karena jika suatu urusan diserahkan atau ditanyakan kepada yang bukan ahlinya, maka menjadi rusaklah urusan itu.
  6. Dahulu, ketika wahyu masih turun dan syariat belum sempurna, para sahabat dilarang banyak bertanya, sebagaimana hadits yang shahih “Apa-apa yang aku larang bagi kalian, maka tinggalkanlah; dan apa-apa yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian. Hanyalah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian, karena banyaknya pertanyaan mereka dan menyelisihi nabi-nabi mereka” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (6858) & Muslim dalam Shohih-nya (1336)], karena dikhawatirkan syariat akan menjadi berat, sehingga orang yang bertanya akan mendapat hukuman yang berat.
  7. Namun sekarang syariat telah sempurna, maka setiap muslim bisa bertanya apa saja karena semua jawaban telah ada dengan sempurnanya syariat. Pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk mencari-cari celah dalam agama atau untuk menimbulkan syubhat dalam agama, niscaya akan terjawab oleh ahli ilmu.
  8. Meskipun demikan, ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak selayaknya dilontarkan, bahkan bisa mengarah kepada perbuatan atau keyakinan yang bid’ah, seperti mempertanyakan Dzat Allah, kaifiyat Allah, ayat-ayat yang mutasyabihaat, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan aqidah yang tidak pernah ditanyakan oleh generasi terbaik (Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in), sementara mereka adalah kaum yang paling bersemangat dalam kebaikan. Sebagaimana kisah masyhur yang terjadi pada Imam Malik (wafat th. 179 H) rahimahullah ditanya tentang istiwa’ Allah, maka beliau menjawab: “Istiwa’-nya Allah ma’lum (sudah diketahui maknanya), dan kaifiyatnya tidak dapat dicapai nalar (tidak diketahui), dan beriman kepadanya wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid’ah, dan aku tidak melihatmu kecuali da-lam kesesatan.” Kemudian Imam Malik rahimahullah menyuruh orang tersebut pergi dari majelisnya. [Syarhus Sunnah lil Imaam al-Baghawi (I/171), Mukhtasharul ‘Uluw lil Imaam adz-Dzahabi (hal. 141), cet. Al-Maktab al-Islami, tahqiq Syaikh al-Albani.]
Tentu masih banyak hikmah dan faedah yang bisa diambil dari setiap ayat Al-Qur’an, yang tidak akan pernah cukup sekalipun air laut menjadi tinta. Hanya kepada Allah kembalinya segala kebenaran, dan Allah Maha Pemaaf atas segala kekurangan.
——————————————————————————————————————————————-
* Kisah di warung Soto didengar dari kajian Ustadz Abdullah Hadhrami hafidhahullah,
dengan beberapa perubahan dalam penyusunan kalimat.

%d bloggers like this: