“Ah…nggak usah dipermasalahkan lah, itu kan cuma masalah kulit!”

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan semacam itu, atau dalam redaksi yang sedikit berbeda yang intinya sama, yaitu menganggap sebagian permasalahan dalam agama Islam sebagai kulit (dan sebagaiannya sebagai isi). Yang mengucapkan bermaksud menganjurkan agar lebih memperhatikan isi (esensi) dan meninggalkan kulit (yang tampak di permukaan), ketika misalnya sedang membicarakan hal-hal yang ternyata terdapat beberapa pandangan yang cukup beragam.

Sepintas, kata-kata tersebut terdengar indah, bijaksana, dan terkesan mendalam. Lebih-lebih jika yang mengucapkan adalah seseorang yang dianggap tokoh atau ditokohkan, atau seorang public figure. Jika sudah demikian, yang mendengar bisa-bisa manggut-manggut tanda setuju. Lain halnya jika bagi seseorang yang punya wawasan yang jelas tentang Islam serta mempunyai timbangan yang tepat untuk menilai setiap ucapan yang keluar dari seseorang.

Imam Malik bin Anas rahimahullah pernah berkata “Setiap pendapat orang bisa diterima atau ditolak, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Konsekuensi ucapan beliau ini adalah bahwa pendapat beliau juga bisa ditolak. Lalu bagaimana pula dengan pendapat dalam agama ini dimana dari segi keilmuan sangat jauh dibawah Imam Malik? Tentu lebih pantas untuk ditolak (atau setidaknya dikritisi) jika nyata-nyata bertentangan dengan syariat Rabbul ‘Alamin. More