Shalat Jama’-Qashar, tak mesti Satu Paket

13 Comments

Kebanyakan kaum muslimin mempunyai anggapan bahwa shalat Jama’ dan Qashar itu satu paket, artinya dimana ada jama’ disitu harus qashar, atau sebaliknya. Padahal, belum tentu demikian adanya. Sebaliknya, banyak juga diantara kaum muslimin yang tidak mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan shalat Jama’ dan Qashar dengan berbagai alasan yang “dianggap” baik (kebanyakan menganggap shalat yang sempurna lebih baik, juga menganggap banyak waktu sehingga tidak perlu jama’ atau qashar, dan berbagai alasan lainnya).

Berikut ini adalah sebuah risalah yang mencoba menjelaskan prinsip shalat Jama’ dan Qashar secara ringkas. Perbedaan pendapat di kalangan ulama tidak akan diulas disini melainkan hanya dipilih pendapat yang dianggap paling rajih (kuat/unggul) dan diikuti oleh penulis, untuk itu pembaca disarankan merujuk kepada kitab-kitab fikih besar yang membahas shalat Jama’ dan Qashar secara rinci berikut tata cara dan berbagai persoalan yang mungkin dijumpai dalam prakteknya. More

Mengapa dan Untuk Apa Bepergian

Leave a comment

Hati adalah sebagaimana badan. Jika badan membutuhkan makan dan minum agar terus hidup, maka hati pun lebih membutuhkan makanan dan minuman supaya hati tidak sakit atau mati, dan makanan-minuman hati adalah ilmu. Begitu juga badan bisa lelah jika terus menerus melakukan aktivitas., demikian pula hati bisa lelah dan bosan setelah melakukan rutinitas.

Kelelahan hati ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu’alahi wasallam dalam hadits berikut ini:

لكل عمل شرة ولكل شرة فترة. فمن كانت فترته إلى سنتي فقد اهتدى ومن كانت فترته إلى غير ذلك فقد هلك

Setiap amal perbuatan ada masa semangatnya, dan setiap semangat ada masa lemahnya. Barangsiapa yang masa lemahnya menuju pada sunnahku, maka sungguh dia telah mendapatkan petunjuk. Namun barangsiapa yang masa  lemahnya menuju pada selainnya, maka sungguh dia telah binasa [Shahih, riwayat Ahmad, Ibnu H ibban, dan lainnya]

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam terkadang juga mengistirahatkan jiwa dengan senda gurau dan tertawa bersama istri dan keluarganya.

Salah satu sarana untuk mengistirahatkan jiwa dari rutinitas adalah dengan bepergian atau ber-safar. Bepergian merupakan sesuatu yang disenangi jiwa. Di dalamnya ada kedekatan dan keramahan dengan sesama, melapangkan kepenatan, mendapatkan pengalaman baru dalam kebaikan, bahkan bisa jadi ajang berlomba menuju kebaikan. Bepergian juga bisa menjadi salah satu sarana dakwah yang baik, berbagi rizki yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita. Oleh sebab arti penting seperti inilah bepergian dibolehkan, bahkan pahala pun bisa diraih selama bepergian.

Beberapa alasan penting mengapa perlu bepergian:

1. Bertafakkur (merenungi, memikirkan) terhadap ayat-ayat kauniyah Allah, bagaimana Dia telah menciptakannya. Tafakkur merupakan ibadah yang sangat besar nilainya di sisi Allah Ta’ala yang dengannya para hamba ini beribadah kepada Allah yang Maha Pencipta.

2. Membuahkan kelapangan jiwa, membuang kepenatan dan beban pikiran sekaligus memberikan suasana baru bagi jiwa dan memberikan penyegaran (refreshing)

3. Menghilangkan kejenuhan dan kebosanan sebab telah lama berada dalam pergaulan yang monoton.

4. Mengambil pelajaran serta nasehat kehidupan dari para pendahulu yang telah berlalu, dimana bagaimanapun juga manusia pada akhirnya akan mati juga.

5. Berlatih tabah menahan kelelahan hidup dan himpitan beban-beban kehidupan. Sebab perjalanan itu sendiri pada hakikatnya adalah penderitaan, kelelahan, dan kesulitan-kesulitan. Misalnya sulitnya mendapat makanan seperti yang diinginkan, sulitnya menjaga kebersihan sebagaimana ketika sedang muqim, lelah dan bosannya perjalanan, dan kesulitan-kesulitan lainnya yang menuntut kesabaran karena semua itu dilakukan untuk menuju kegembiraan yang telah direncanakan.

Maka dari itulah, diantara do’a ketika bepergian adalah “Ya Allah, sesungguhnya kami mohon kepadaMu di dalam perjalanan kami ini amal baik dan ketaqwaan serta amal perbuatan yang Engkau ridhoi. Ya Allah, mudahkanlah atas kami perjalanan kami ini dan dekatkanlah kepada kami jaraknya. Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pengganti(ku) yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kesulitan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan perubahan yang jelek dalam harta dan keluarga” [HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi]

6. Belajar memperbaiki akhlak dengan senantiasa memeliharanya di sepanjang perjalanan, seperti sabar, mulia dan dermawan, tabah dan berharap pahala, dan berbagai akhlak mulia lainnya.

7. Setelah kembali dari perjalanan akan menyemangati jiwa agar gemar beribadah dan menunaikan ketaatan. Telah ada petunjuk dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengenai do’a ketika kembali dari bepergian:

“Kami kembali, bertaubat, tetap beribadah, dan senantiasa memuji Rabb kami” [HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi]

Lapangnya jiwa merupakan sebab yang kuat yang memunculkan kemauan serta semangat baru.

8. Selama bepergian merupakan kesempatan yang cocok untuk mendidik dan memberi pengarahan kepada keluarga. Betapa banyak serta beragamnya kejadian yang didapati saat bepergian sehingga seorang pendidik bisa memberikan arahan tentang sikap apa yang harus diambil di saat seperti itu.

9. Ketika bepergian akan benar-benar terwujud makna ukhuwah, persaudaraan serta kasih sayang, yang semuanya itu merupakan ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah Ta’ala.

Tentunya masih banyak alasan-alasan lain yang bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala yang tidak dapat disebutkan satu per satu di sini.

Setelah memahami alasan mengapa perlu mengadakan perjalanan (safar), maka selanjutnya kita perlu mengetahui apa saja yang dapat dikatakan sebagai perjalanan yang Islami, yaitu suatu perjalanan (yang dimaksud adalah perjalanan dalam rangka liburan) yang sesuai dengan syariat Islam, atau minimal dibolehkan secara syariat, dan kalau bisa adalah yang diperintahkan atau dianjurkan.

Berikut ini hanya beberapa contoh yang dapat dijadikan rujukan agar liburan meraih pahala:

1. Mengunjungi keluarga dan kerabat yang mana pada hari-hari biasa tidak sempat atau jarang dikunjungi. Inilah yang disebut dengan silaturrahim, yang manfaatnya sudah sangat dipahami oleh sebagian besar kaum muslimin, yaitu akan diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya (berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

2. Mengikuti acara pelatihan keagamaan (biasa disebut dengan istilah Dauroh). Biasanya banyak acara Dauroh yang diadakan selama liburan sekolah.

3. Melaksanakan Umrah, bagi yang diberi kelapangan rizki. Diantara keutamaan Umrah adalah menghapuskan dosa diantara dua Umrah.

4. Rekreasi atau Wisata Alam. Ini adalah dalam rangka men-tafakkuri ciptaan Allah Ta’ala. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah hendaknya tidak mengunjungi tempat-tempat yang murni maksiat, penuh dengan syiar-syiar kekafiran, atau tempat yang banyak maksiatnya, karena itu adalah pintu yang sangat halus dari setan dan bala tentaranya untuk menggelincirkan manusia dari jalan Allah Ta’ala.

5. Menyalurkan hobi yang bermanfaat. Terkadang, karena kesibukan yang rutin, seseorang tidak bisa menyalurkan hobinya. Selama hobi itu sifatnya positif, mubah (boleh) secara syariat, tidak ada unsur pelanggaran terhadap syariat, maka sah-sah saja untuk disalurkan, selama hal yang mubah tidak dilakukan secara berlebihan.

Pada prinsipnya, sebagaimana kaidah umum “asal segala sesuatu (adat istiadat, selain ibadah) adalah boleh, sampai ada dalil yang melarangnya”, maka rekreasi atau memanfaatkan waktu liburan untuk hal-hal yang tidak ada unsur haramnya dalam syariat adalah boleh.

فإذا فرغت فانصب

“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”                    [Al-Insyiroh 7]

———————————————————————————-

Diringkas dari beberapa artikel di Majalah Al-Mawaddah vol. 41 dengan beberapa tambahan, di sela-sela masa liburan di rumah orang tua.

eh, Mas…Mas…itu Shalat apa?

1 Comment

Dalam salah satu perjalanan safarku, aku menginap di sebuah hotel dan ada sebuah masjid kecil yang berjarak kurang dari 100 meter dari hotel.  Pada suatu fajar, ketika aku sampai di masjid itu, rupanya muadzin sedang mengumandangkan iqomah, maka aku segera bergabung dengan jamaah. Waktu itu aku belum shalat sunnah Qabliyah Subuh di kamar hotel, karena memang biasanya aku lakukan di masjid mengingat di sini tidak ada standar jarak yang baku antara adzan dan iqomah. Berbeda dengan tempat aku muqim dimana antara adzan dan iqomah untuk shalat Subuh 25 menit, jadi aku bisa shalat Qabliyah di rumah.

Aku tidak ingin kehilangan 2 rakaat yang sangat dianjurkan ini (muakad), sebagaimana hadits ‘Aisyah berikut ini:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Dua rakaat fajar (subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.” [HR. Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Rak’atai Sunnah al-Fajr wa al-Hatsu ‘alaihima wa Takhfifuhuma ‘alaihima wa Bayan Ma Yustahab ‘an Yaqra’a fihima, no. 725]

Dan terlebih lagi, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun tidak pernah meninggalkannya baik di kala muqim maupun safar, sebagaimana dinukil oleh Ibnu al-Qayyim dalam Zad al-Ma’ad, “Di antara contoh petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safarnya adalah mencukupkan diri dengan melaksanakan shalat fardhu, dan tidak diketahui bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudahnya (shalat fardhu), kecuali shalat witir dan sunnah rawatib Subuh, karena beliau tidak pernah meninggalkan keduanya pada keadaan mukim ataupun bepergian.” [Zad al-Ma’ad: 1/456]

Maku aku pun sudah berniat untuk meng-Qadha (mengganti) nya setelah menyelesaikan shalat Subuh berjamaah. Aku sempat khawatir kalau-kalau hal itu menimbulkan ‘kontroversi’ pada jamaah, mengingat praktek seperti itu belum umum di sini, meskipun ilmu tentang itu sudah dimaklumi di tempat aku bermuqim (Oman). Praktek qadha Qabliyah Subuh itu adalah shahih berdasarkan riwayat berikut ini:

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang belum mengerjakan dua rakaat (shalat, ed.) sebelum subuh, hendaklah dia kerjakan setelah matahari terbit.” (HR. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Dari Qais bin Qahd radhiallahu ‘anhu, bahwa dia pernah shalat shubuh bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia belum sempat mengerjakan shalat qabliyah. Tepat setelah shalat subuh berjamaah selesai, Qais langsung berdiri dan mengerjakan dua rakaat shalat qabliyah subuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya dan tidak mengingkarinya.” (HR. Turmudzi, Ibnu Hibban, dan Thabrani; dan dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth)

Dan benar saja, ketika aku baru saja mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, 2 orang (Imam dan Muadzin) berusaha menghentikan shalatku, “eh, Mas…Mas…itu Shalat apa?”, sambil tangan si Muadzin dijulurkan di hadapanku. Ketika aku berusaha mengabaikannya, mereka terus berteriak, hingga akhirnya aku batalkan shalat untuk menjelaskan kepada mereka. Hal ini aku lakukan karena membatalkan shalat sunnah itu hukumnya boleh, apalagi demi sebuah maslahat.  Lalu aku jelaskan kalau aku shalat Qabliyah Subuh sebagai Qadha. Alhamdulillah, ada salah seorang jamaah setempat yang mengetahui ilmu ini sehingga membantu menjelaskan kepada Imam. Dan aku pun bisa melanjutkan shalatku.

Sekali lagi, ilmu sangat diperlukan sebelum beramal. Ilmu juga diperlukan sebelum melakukan amar ma’rif nahi munkar. Aku bisa saja meng-Qadha nya setelah matahari terbit, namun saat itu aku juga berniat ingin menunjukkan adanya sunnah ini kepada jamaah. Dengan adanya sedikit dialog (meski sempat mengganggu shalatku), mudah-mudahan hal itu dilanjutkan dengan ditanyakannya kepada orang yang dianggap berilmu oleh jamaah setempat (yang aku ketahui, salah seorang imam Shalat Subuh adalah seorang orang tua yang kelihatannya paham dengan sunnah, sayangnya waktu itu bukan beliau yang menjadi imam).

Aku menduga, mungkin Iman dan Muadzin mengingkari perbuatanku karena mereka mengetahui adanya riwayat dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri yang menyebutkan waktu-waktu yang terlarang untuk mengerjakan shalat, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيْبَ الشَّمْسُ

“Tidak ada shalat setelah subuh sampai matahari tinggi dan tidak ada shalat setelah ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Al-Bukhari no. 586 dan Muslim no. 1920)

Memang benar adanya larangan shalat pada waktu-waktu yang telah disebutkan dalam sunnah mengenai pelarangannya, namun larangan ini tidak berlaku untuk praktek qadha Qabliyah subuh, karena telah ada sunnah yang secara khusus menunjukkan praktek tersebut, sehingga khususnya pembolehan itu mengeluarkannya dari keumuman pelarangan. Wallahu a’lam.

———————————————————————————

Pengalaman saat safar di Solo, dan tulisan ini diselesaikan di Jogja

Negeri Muslim dan Do’a Safar

Leave a comment

Tinggal di negeri Muslim, bagaimanapun juga tetap lebih mententramkan hati. Negara kufar yang maju dan serba modern mungkin saja menyilaukan mata lahir, tetapi jauh di lubuk hati yang dalam, fitrah yang masih lurus pasti akan merasakan ketidaknyamanan.

Negeri muslim, sekalipun sudah menjadi maju dan hampir seperti negeri “barat”-yang saya maksud adalah beberapa negara di Timur Tengah-tetap saja masih memberikan ketenangan. Di Mall-mall masih terdengar seruan Adzan…yaah…meski pakai rekaman, setidaknya bisa mengingatkan kaum muslimin yang sedang berbelanja untuk segera mendirikan Shalat. Tempat shalat pun tersedia dengan memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan Masjid “berserakan” di mana-mana, mulai dari yang kecil sampai yang besar…tinggal pilih dan tinggal diingat-ingat posisinya jadi bisa mampir ketika waktu shalat tiba.

Masih banyak yang bisa disebutkan, tapi dalam tulisan kali ini saya ingin menuliskan do’a ketika safar (bepergian). Do’a ini bisa dijumpai di buku-buku do’a, anak-anak kecil pun sudah banyak yang hafal. Tapi biarlah, saya menuliskannya karena terkesan. Baru di sinilah (Timur Tengah) saya mendengar dibacakan do’a safar ketika semua penumpang sudah naik di atas pesawat. Di negera muslim lainnya, belum tentu do’a ini dibacakan, meski teks do’a disediakan di kantong-kantong kursi (ditambah pula do’a dari berbagai agama/kepercayaan).

Setidaknya ada 2 maskapai penerbangan yang membacakan 2 versi do’a, yang mana salah satunya membacakan do’a khusus untuk naik kendaraan, sedangkan yang satunya lebih umum lagi yaitu do’a safar. Kedua-duanya memiliki bacaan yang sama, sedangkan yang satunya lebih lengkap.

1. Do’a naik kendaraan

بسم الله الحمد لله (سبجن الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين وإنا إلى ربنا لمنقلبون). الحمد لله – الحمدلله – الحمد لله – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر –

سبحا نك إني ظلمت نفسي فاغفرلي فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت

“Dengan Nama Allah, Segala puji hanya milik Allah (Mahasuci Rabb yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami-Az Zukhruf 13-14). Segala puji hanya milik Allah-Segala puji hanya milik Allah-Segala puji hanya milik Allah-Allah Maha Besar-Allah Maha Besar-Allah Maha Besar. Mahasuci Engkau, ya Allah. Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Karena tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau” [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani]

2. Do’a Safar/Bepergian

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر (سبحن الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين وإنا إلى ربنا لمنقلبون). اللهم إنا نسألك في سفرنا هذا البر والتقوى ومن العمل ما ترضى. اللهم هون علينا سفرنا هذا واطو عنا بعده. اللهم أنت الصاحب في السفر والخليفة في الاهل. اللهم إني أعوذبك من وعثاءالسفر وكاابة المنظر مسوء المنقلب في المال والأهل

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. (Mahasuci Rabb yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami-Az Zukhruf 13-14). Ya Allah, sesungguhnya kami mohon kepadaMu di dalam perjalanan kami ini amal baik dan ketaqwaan serta amal perbuatan yang Engkau ridhoi. Ya Allah, mudahkanlah atas kami perjalanan kami ini dan dekatkanlah kepada kami jaraknya. Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pengganti(ku) yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kesulitan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan perubahan yang jelek dalam harta dan keluarga” [HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi]

Di Saudi Arabia, bahkan sang Pilot memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika akan memberikan pengumuman pertama kali dan ketika pesawat mendarat.

Tambahan do’a jika kembali dari safar/perjalanan – tidak dibaca oleh para Pilot, karena perjalanan itu belum tentu merupakan perjalanan kembalinya mereka.

ايبون تائبون عابدون لربنا حامدون

“Kami kembali, bertaubat, tetap beribadah, dan senantiasa memuji Rabb kami” [HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi]

Masih ada lagi do’a dan dzikir selama safar serta sunnah-sunnah lainnya yang bisa ditemukan dalam buku-buku do’a dan dzikir yang muktabar. Disamping itu, saat safar adalah saat-saat dikabulkannya do’a, makanya seringkali teman-teman muslim Arab ini minta di-do’a-kan ketika kita pamitan untuk safar.

Semoga Allah senantiasa memberi Taufiq kepada kita untuk senantiasa bermunajat kepadaNya dalam setiap safar kita dan waktu-waktu lainnya.

%d bloggers like this: