Dan Kuatkan Kesabaranmu!

Leave a comment

Sabar secara bahasa berarti menahan. Adapun secara syariat, Sabar berarti menahan diri dari tiga hal:

Pertama, sabar untuk taat kepada Allah.

Kedua, sabar dari hal-hal yang diharamkan Allah.

Ketiga, sabar terhadap takdir Allah. Demikianlah macam-macam sabar yang disebutkan oleh ahli ilmu.

Masalah pertama, hendaknya manusia sabar untuk taat kepada Allah, karena ketaatan adalah sangat berat dan sulit bagi manusia. Begitu juga berat bagi badan, sehingga menjadikan manusia lemah dan capek. Ketaatan juga akan menimbulkan kesulitan dari aspek keuangan, seperti masalah zakat dan masalah haji. Yang penting bahwa dalam ketaatan ada kesulitan terhadap jiwa dan raga sehingga diperlukan kesabaran dan ketabahan. Allah Ta’ala berfirman

يأ يها الذينءامنوا اصبروا وصابروا ورابطوا واتقوا الله لعلكم تفلحون

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” (Ali Imraan 200)

Dari ayat diatas Allah Ta’ala memerintahkan kepada manusia untuk menguatkan kesabaran dalam menjalankan ketaatan. Hal ini karena ketaatan itu ada dua macam:

1. Kesabaran dari perbuatan yang dengannya manusia merasa terbebani dan dipaksa, seperti berbagai macam perintah ibadah dan perintah untuk istiqomah menjalankannya.

2. Kesabaran dari perbuatan yang membebani jiwa karena melakukan ketaatan, seperti meninggalkan kemaksiatan. Ini merupakan perbuatan yang sangat berat bagi jiwa yang condong kepada perbuatan tercela.

Maka dari itu, menguatkan kesabaran untuk menjalankan ketaatan lebih mulia daripada kesabaran menahan diri dari kemaksiatan. Karena itu Allah Ta’ala berfirman “Dan Kuatkanlah kesabaran”, saakan-akan ada orang yang menantangmu untuk bersabar, seperti orang yang haru sabar menghadapi musuhnya dalam peperangan dan jihad.

Masalah kedua, sabar dari hal-hal yang diharamkan Allah. Manusia harus menahan dirinya dari apa yang diharamkan Allah atasnya, karena jiwa manusia condong kepada perbuatan tercela, maka manusia harus sabar dalam menahan diri dari kebohongan, penipuan, interaksi, memakan harta dengan batil, baik dengan riba atau dengan yang lainnya, berzina, minum khamr, pencurian dan kemaksiatan lainnya.

Bersabar dari hal-hal yang diharamkan Allah, artinya janganlah kita melakukannya, hendaknya menghindari dan jangan mendekatinya. Kesabaran dari maksiat tidak akan terjadi kecuali orang yang hawa nafsunya selalu mengajaknya untuk berbuat maksiat. Adapun orang yang dalam hatinya tidak terbetik untuk berbuat maksiat, tidak disebut sabar darinya. Maka jika hawa nafsu sedang mengajak untuk berbuat maksiat, maka hendaknya bersabar dan menahan hawa nafsu tersebut.

Masalah ketiga, sabar terhadap takdir Allah yang tidak disukai. Dikarenakan takdir Allah kepada manusia itu ada yang disukai dan ada yang tidak disukai. Takdir Allah yang tidak disukai pada manusia seperti seseorang yang terkena musibah pada badan, harta, keluarga, atau masyarakatnya dan sebagainya yang bermacam-macam, maka diperlukan kesabaran dan ketabahan. Realisasinya adalah, dia tidak berkeluh kesah, baik dengan lisan, hati , maupun anggota badan.

Kepastian untuk menjalani takdir Allah tidak bisa dielakkan. Terlebih lagi Allah memang bermaksud untuk menguji hamba-Nya dengan berbagai macam musibah. Maka berkeluh kesah terhadap takdir tidaklah merubah keadaan melainkan hanya membuatnya bertambah berat. Dalam hal ini, kesabaran adalah sebuah keharusan. Dan jika manusia bersabar, Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam untuk memberikan kabar gembira serta pahala yang tanpa batas.

Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam menggambarkan ketiga tingkatan kesabaran yang disebutkan diatas:

Pertama, ketika beliau ditinggalkan di dasar sumur oleh saudara-saudaranya, hingga ditemukan oleh serombongan kafilah lalu dijual sebagai budak. Tidak ada keluh kesah yang diceritakan oleh Al-Qur’an, sehingga hal ini menunjukkan kesabaran beliau dalam menyikapi takdir Allah Ta’ala.

Kedua, ketika beliau berhasrat dengan istri Al-Aziz dan istri Al-Aziz pun bermaksud menggodanya, maka beliau menolakknya karena rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Karena hawa nafsunya telah mengajak untuk berbuat maksiat dan beliau mampu untuk menolakknya, maka inilah kesabaran beliau dalam meninggalkan maksiat.

Ketiga, sebagai puncak kesabaran beliau adalah ketika beliau memaafkan saudara-saudaranya serta berbuat baik kepada mereka sementara beliau pada waktu itu menjadi seseorang yang berkuasa di Mesir yang mana sangat mudah untuk memberikan mudharat kepada saudara-saudaranya yang telah mendhaliminya di masa silam.

Wallahu A’lam.

——————————————————————————————————————-

Sebagian besar diambil dari Syarah Riyadhush Shalihin oleh Syaikh Utsaimin rahimahullahu.

Disampaikan di halaqah Masjid Adi Oman, Kamis 26 Mei 2011

Advertisements

Memaknai Tulisan

Leave a comment

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah atas nikmat iman, nikmat islam, dan nikmat sunnah. Senantiasa kita memohon kepada Allah agar diberikan hati yang jernih, dan diberikan rasa ikhlas dalam melalui setiap taqdirnya. Apa yang telah berlalu tidak luput dari taqdir Allah. Sebagaimana Allah telah menciptakan Qalam (pena) untuk pertama kalinya dan memerintahkan untuk menuliskan semua kejadian sampai hari kiamat.

إن أول ما خلق الله القلم. فقال له :أكتب! قال رب وماذ أكتب؟ قل أكتب مقادير كل شيء حتى تقوم الساعة

”Sesungguhnya yang pertama Allah ciptakan adalah pena. Kemudian Dia berkata kepadanya: ‘Tulislah!’ Pena bertanya : ‘Apa yang aku tulis wahai Tuhanku?’ Allah berkata: Tulislah taqdir segala sesuatu sampai hari kiamat. (H.R Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ahmad dari Ubadah bin As-Shoomit Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud).

Alhamdulillah, mari kita bersyukur kepada Allah jika kita diberikan kemampuan untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian yang berlalu. Tidak ada kejadian yang sia-sia dalam kehidupan ini. Setiap episode yang kita lalui akan membentuk sebuah pijakan pada episode berikutnya. Pengalaman masih merupakan guru yang paling baik, selama kita mau menjadikannya sebagai guru.

ربنا ما خلقت هذا بطل سبحنك فقنا عذاب النار

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” [Ali ‘Imran 191]

Sebuah tulisan bisa menjadi beribu makna. Seribu orang yang membaca sebuah tulisan, memungkinkan seribu interpretasi, seribu pemahaman, dan seribu perbedaan. Bisa jadi, seseorang akan bahagia membaca sebuah tulisan, tapi tidak menutup kemungkinan orang lain akan sedih ketika membaca tulisan yang sama, sedangkan orang yang lain lagi mungkin memikirkannya terlebih dahulu, dan yang lain lagi mungkin tidak peduli. Mengapa tidak? Karena memang Allah telah menciptakan manusia secara sempurna dengan adanya Akal dan Perasaan. Dan setiap individu itu unik, berbeda satu sama lain. Kecuali jika Akal dan Perasaan itu membaca dengan kacamata wahyu (Al Qur’an dan Sunnah), insya Allah satu kata akan bermuara pada satu makna, dan satu pemahaman. Jika pun ada perbedaan, tentu akan selalu kembali kepada keduanya. Sehingga tidak perlu ada sakit hati, tidak juga iri dengki, hingga mengganggu silaturahmi.

فإن تنزعتم في شيئ فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الأخر ذلك خير وأحسن تأويلا

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” [An Nisaa 59]

Akan tetapi tulisan tetaplah harus dibuat. Dia sangat bermanfaat untuk mengikat ilmu. Bahkan Al Qur’an dan Sunnah juga lestari karena tulisan. Kata-kata dan tulisan juga sangat bermanfaat untuk memberikan nasehat. Sekalipun orang lain tidak bisa mengambil manfaatnya, si pemberi nasehat adalah orang pertama yang mendapatkan manfaatnya. Dan bukankah Agama ini adalah nasehat? Yaitu nasehat kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada pemimpin umat, serta kepada seluruh kaum muslimin. Tidak ada paksaan untuk menerima nasehat.

الذين النصيحة. قلنا لمن؟ قال: لله ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

“Agama itu adalah Nasehat”, Kami bertanya: Untuk Siapa ? Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim” [HR. Muslim no. 55 Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu ‘anhu]

Bukan manusia kalau tidak pernah salah…

كل بني أدم خطاء. و خير خطائين التوابون

(HR. Imam Ahmad, hasan)

Manusia memang makhluk yang suka membantah…

وكن الإنسان أكثر شيء جدلا

“Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah” [Al-Kahfi 54]

Hanya Malaikat yang selalu menurut perintah Allah…

لا يعصون الله ما امرهم ويفعلون ما يؤمرون

“tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”  [At Tahrim 6]

Hanya Nabi yang maksum dari segala dosa dan kesalahan. Dan orang yang paling banyak salahnya adalah orang yang banyak bicara, juga yang banyak menulis. Namun demikian, hal ini hendaknya tidak menghalangi seseorang untuk berbicara dan berkata. Jika memang mengandung kebenaran, jika yang dikatakan tidak memalukan, dan jika diperkirakan tidak menimbulkan mudharat yang lebih besar (dalam batasan yang wajar, tidak terlalu jauh berandai-andai)….katakan atau tuliskan saja.

إذ لم تستح فاصنع ماشئت

Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” [HR. Bukhari Dari Abu Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Al Badri radhiyallahu’anhu]

Sedangkan kebanyakan manusia saja tidak malu dan tidak segan berkata dan berbuat yang sia-sia bahkan tercela.

Aku berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan diriku sendiri.

——————————–

Pernah ditulis dan diposting di milis muslim-omanindo pada 10 Januari 2010. Tambahan ayat dan hadits pada 2 Mei 2011.

%d bloggers like this: