Meniti Jalan Menggapai Kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala

4 Comments

Dalam hadist sahih Riwayat Muslim, dari Muawiyah radhiyallahu’anhuma, “Suatu hari Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam menjumpai kami. Pada waktu itu kami sedang duduk bermajlis. Kami para sahabat Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam sedang duduk di satu majlis di satu kumpulan, yang kemudian tujuannya kami duduk di Mesjid tersebut adalah untuk mengingat besarnya nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan untuk mengingat nikmat Islam dan Iman. Maka Rasulullah bersabda : “Apakah yg menyebabkan kalian duduk di Mesjid ini?”, Kami katakan: “kami duduk disini dalam rangka mengingat-ingat nikmat Islam dan anugerah yg dilimpahkan kepada kami”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Demi Allah, apakah kalian tidak duduk di Mesjid ini kecuali untuk tujuan itu?” Maka para sahabatpun menjawab, “Demi Allah kami tidak duduk kecuali untuk tujuan itu”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “demi Allah bukanlah aku meminta kalian bersumpah karena ragu terhadap niat kalian, karena menuduh kalian berdusta, bukan, akan tetapi aku meminta kalian mengatakan itu karena barusan saja Malaikat Jibril datang kepadaku dan menyampaikan kepadaku bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala membanggakan kalian dihadapan para MalaikatNya, membanggakan orang yg hadir orang yg hadir di Mesjid ini di hadapan para MalaikatNya”.
More

Advertisements

Fenomena Mengikuti Suatu Kaum

3 Comments

Fenomena perilaku mengekor musuh-musuh Allah –yaitu golongan kafir dan musyrik– telah menjalar di tubuh umat Islam dan hampir di segala segi dan tata kehidupan, seperti cara berpakaian, gaya bicara dan penampilan, sampai kepada hal yang lebih besar, yaitu soal-soal ibadah. Padahal

Allah telah mengingatkan kita pada banyak ayat-Nya untuk tidak mengikuti jalan-jalan mereka. Diantara peringatan Allah Ta’ala itu adalah

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan sungguh sekiranya engkau (Muhammad) mengikuti hawa nafsu mereka setelah datangnya kebenaran ini kepadamu, niscaya engkau akan masuk golongan orang-orang zalim.” [Al Baqarah 145]
More

Di Manakah Tali Cinta-mu Bergantung?

Leave a comment

Cinta itu anugerah. Tak seorangpun menampiknya. Karena anugerah, maka cinta kerap datang secara tiba-tiba, bahkan seringkali tanpa si pemilik cinta menghendaki kehadirannya. Yah, betapa banyak di antara kita yang ‘menyesal’ karena lebih menyukai Gudeg ketimbang Burger.  Tapi kecintaan pada makanan itu datang begitu saja.

Persoalannya, meski cinta datang tak terduga-duga, ia selalu punya alasan kenapa hadir dalam kehidupan nyata. Cinta selalu datang dari pipa saluran yang berbeda-beda, meski sumbernya adalah sama. Berbeda pipa, karena berbeda alasan. Masing-masing alasan menentukan kwalitas cinta. Bingung? Mari deh, kita simak penuturannya berikut ini.

Cinta, Selalu Punya Alasan

Kita boleh saja menukas, bahwa cinta itu menyerbu hati kita, tanpa kita pernah memintanya.  Selain blind (buta), cinta juga blue (tak terduga-duga). Tapi kenyataannya, cinta selalu punya alasan ketika ia hadir di hati kita.

Okey, sebagai contoh, kita kembali ke soal makanan. Masyarakat Indonesia, meski kaya dengan beragam makanan, tapi miskin keragamam makanan pokok. Selain beberapa wilayah di tanah air yang memilih sagu atau jagung sebagai makanan pokok, umumnya masyarakat Indonesia hanya mengenal satu jenis makanan pokok: nasi. More

Rumah adalah Berkah

Leave a comment

Apakah arti sebuah rumah itu menurut anda? Bukankah dia adalah tempat dimana seseorang itu makan, menikmati keakraban dengan pasangannya, tempat untuk tidur dan istirahat? Bukankah dia adalah sebuah tempat dimana seseorang bisa menyendiri dan bisa berkumpul dengan istri dan anak-anaknya? Bukankah dia adalah tempat yang dapat memberikan perlindungan kepada para wanita?

Jika anda memikirkan para tunawisma yang tinggal di tenda-tenda, atau di jalanan, atau seperti para pengungsi yang berserakan di tenda-tenda, maka anda akan menyadari betapa beruntungnya mempunyai rumah. Jika anda mendengarkan seorang tunawisma berkata, “saya tidak tahu dimana harus tinggal karena tidak punya tempat untuk menetap. Kadang-kadang saya tidur di rumah-rumah orang, terkadang di tempat parkir, di depan toko, di pinggir pantai“, maka anda akan menyadari gangguan-gangguan yang muncul dengan tidak adanya rumah.

Maka Rumah adalah sebuah berkah. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

والله جعل لكم من بيوتكم سكنا

“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal” [An Nahl 80]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: disini Allah Ta’ala menyebutkan berkah yang lengkap kepada hambaNya. Dia telah memberikan kepada mereka rumah-rumah sebagai tempat tinggal yang tenteram bagi mereka, bagaikan surga yang melindungi mereka dan memberikan kepada mereka berbagai macam keuntungan.

Ingatlah ketika Allah Yang Maha Perkasa menghukum Yahudi Bani Nadhir, dimana Dia mencabut berkah ini (berkah dari adanya tempat tinggal) dan mengusir mereka dari rumah-rumah mereka, sebagaimana dalam firmanNya:

…هو الذي أخرج الذين كفر من أهل الكتاب من ديرهم لأول الحشر

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama” [Al Hasyr 2]

Kemudian Allah Azza wa Jalla berkata:

يخربون بيوتهم بأيديهم وأيدى المؤمنين فاعتبروا يأولى الأبصر

“mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan” [Al Hasyr 2]

Maka betapa berharganya sebuah rumah itu, yang keberadaanya merupakan salah satu nikmat dari Allah Azza wa Jalla. Rumah yang merupakan tempat dimana kita berinteraksi dengan keluarga kita sehari-hari mestilah dalam kondisi yang layak dan nyaman. Untuk itu, diperlukan adanya kemesaraan, cinta, ketulusan, keterbukaan, kejujuran, dan yang semisal dengannya. Hal-hal yang diperlukan untuk membangun semua faktor yang disebut diatas dapat dicapai dengan menerapkan prinsip-prinsip Islam secara benar. Dengan menerapkannya secara benar, Insya Allah, hal-hal diatas dapat dicapai, sehingga akan membuktikan bahwa Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin. 

Insya Allah bersambung dengan 40 poin penerapan prinsip-prinsip Islam. Semoga Allah Ta’ala memberi Taufiq kepada saya dan anda semua.

———————–

Diringkas dari “The Muslim Home – 40 Recommendations In the Light of the Qur’an and Sunnah” by Syaikh Muhammad Salih al-Munajid, International Islamic Pubublishing House-Riyadh.

%d bloggers like this: